— Jakarta – Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mendesak kepolisian untuk segera menetapkan pimpinan Majelis Darul Nurul Hikam di Bekasi, Asep Setiawan atau Abah Setu, sebagai tersangka. Desakan ini muncul setelah Abah Setu diduga menghina Nabi Muhammad SAW dan kemudian meminta maaf usai diperiksa polisi.

“Saya dukung polisi segera tetapkan tersangka dan penjarakan, karena sudah melakukan penghinaan terhadap agama Islam,” kata Sahroni saat dihubungi, Jumat (11/9/2026). Sahroni menilai pernyataan Abah Setu sangat keterlaluan dan tidak bisa dianggap remeh. Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran agar pelecehan terhadap agama apapun tidak ditoleransi.

Sahroni juga menanggapi klaim Abah Setu bahwa pernyataannya dipotong dan diedit menggunakan kecerdasan buatan (AI). Ia meyakini konten asli Abah Setu, dan menyerahkan pembuktian soal AI kepada kepolisian. “Yang bisa buktikan AI atau tidak itu kepolisian, saya duga itu benar, asli, dan benar-benar asli,” tegasnya.

Sebelumnya, polisi telah melakukan klarifikasi terhadap Abah Setu terkait dugaan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Dalam pertemuan tersebut, Abah Setu menyampaikan permohonan maafnya atas pernyataan yang menimbulkan keberatan di masyarakat. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyatakan bahwa informasi yang diperoleh masih dalam pendalaman pihak kepolisian.

Proses klarifikasi dan mediasi tersebut digelar di Mapolres Metro Bekasi dengan melibatkan sejumlah pihak, termasuk MUI Kabupaten Bekasi, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan perwakilan organisasi kemasyarakatan. Kepolisian mengimbau masyarakat untuk menjaga ketenangan dan tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu keamanan serta ketertiban.

Dugaan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW oleh Abah Setu ini viral di media sosial setelah beredarnya rekaman video. Dalam video tersebut, Abah Setu menyinggung soal Nabi Muhammad dan menyebut pengikutnya ‘terjebak syariat’, yang kemudian dianggap sebagai pernyataan kontroversial dan diduga menghina Nabi.

Pernyataan dalam video tersebut memicu reaksi dari warga, yang kemudian mendatangi Majelis Darul Nurul Hikam pada Senin (7/9) malam.