Jurnal Indonesia — Sebanyak 32 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri di Jawa Barat telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan 64 perusahaan dari berbagai sektor industri. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat keselarasan antara sistem pembelajaran vokasi yang diterapkan di sekolah dengan kebutuhan riil dunia kerja, dunia usaha, dan dunia industri (DUDI).
Ruang lingkup kerja sama ini mencakup berbagai bidang keahlian, mulai dari bisnis dan manajemen, pariwisata, teknologi manufaktur dan rekayasa, teknologi informasi, seni dan ekonomi kreatif, hingga otomotif. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang lebih siap dan relevan dengan tuntutan pasar kerja.
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jawa Barat, Purwanto, menekankan bahwa kolaborasi menjadi kunci utama untuk mengatasi keterbatasan sumber daya yang ada di sekolah. Ia menyatakan bahwa perusahaan mitra dapat berperan sebagai ‘laboratorium kehidupan’ (living lab) bagi para siswa, memberikan pengalaman praktis secara langsung.
“Keterbatasan sekolah itu hanya bisa diatasi dengan kolaborasi. Saya berterima kasih kepada perusahaan-perusahaan yang bersedia menjadi living lab bagi anak-anak kita,” ujar Purwanto dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (9/9/2026). Penandatanganan kerja sama ini sendiri difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan berlangsung di SMKN 1 Setu, Kabupaten Bekasi, pada Selasa (1/9).
Purwanto juga mendorong para kepala sekolah untuk terus proaktif dalam membangun kemitraan strategis tidak hanya dengan perusahaan, tetapi juga dengan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta komunitas di lingkungan sekitar. Diharapkan, kolaborasi ini juga dapat memfasilitasi kehadiran praktisi industri langsung ke sekolah untuk memperkuat kompetensi siswa.
Acara tersebut juga dirangkaikan dengan penyerahan hibah mesin dan peralatan praktik dari Kementerian Perindustrian RI melalui Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE). Bantuan yang diserahkan berupa mesin bubut (general lathe) yang didatangkan langsung dari Korea Selatan.
Terkait kelengkapan alat, Purwanto menilai bahwa ketersediaan fasilitas praktik yang sesuai dengan standar industri merupakan hal yang krusial dalam pendidikan vokasi. Dengan peralatan yang memadai, siswa akan lebih terbiasa dengan ritme kerja dan standar operasional yang berlaku di dunia kerja sesungguhnya.
Selain peningkatan kompetensi teknis, Purwanto juga menggarisbawahi pentingnya pembentukan karakter dan budaya kerja sejak dini di bangku sekolah, seperti menanamkan nilai kebersihan dan kedisiplinan. “Perusahaan membutuhkan orang-orang yang disiplin dan tanggung jawab,” tutupnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.