— Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, meninjau lokasi kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, yang telah berlangsung sejak Selasa (30/6).

Diaz menyatakan karakter kebakaran TPA mirip kebakaran lahan gambut, namun berisiko lebih besar karena kandungan gas metana (CH4) di bawah tumpukan sampah. Hingga hari kelima pemadaman, luas area terdampak diperkirakan mencapai 15 hektar.

“Memang pemadaman ini bukan hal yang mudah ya. Ini karakteristiknya mirip seperti kebakaran lahan gambut. Karena mungkin di atasnya terlihat sudah padam, tetapi ketika kita lihat di bagian bawahnya ini masih ada apinya,” kata Diaz usai meninjau lokasi, Sabtu (4/7/2026).

Diaz menjelaskan keberadaan metana membuat TPA Jatiwaringin berisiko ledakan, berbeda dengan lahan gambut yang tidak mengandung gas serupa.

“Kalau gambut mungkin hanya potensinya kebakar karena tidak ada gas seperti yang di sini gitu. Kalau di sini ini mungkin bisa lebih explosif gitu (karena ada CH4-nya),” jelas Diaz. “Dan lebih bahaya lagi karena ini sifatnya CH4 atau metana itu punya potensi untuk meledak.”

Pemantauan Kualitas Udara

Kementerian Lingkungan Hidup menerjunkan dua unit mobile monitoring system untuk memantau kualitas udara di sekitar lokasi. Hasil pemantauan menunjukkan parameter polusi udara sempat mencapai angka 1.000, jauh di atas ambang yang dianggap baik.

“Kalau baku mutunya yang dibilang baik itu 15,5, dan sedang dari 15,5 sampai 55,5, dan setelah itu tidak sehat dan membahayakan dan lain sebagainya. Dan ini sudah sampai ke tingkat 1.000. Jadi berapa hari ini sudah tingkat 1.000, tetapi tadi malam saya lihat langsung menurun drastis,” ujar Diaz.

Pemantauan sempat terkendala karena pasokan listrik di posko tidak sanggup menopang alat monitoring berkapasitas 3.500 watt. Diaz menyebut dirinya telah berkoordinasi dengan PLN untuk memastikan pasokan listrik stabil agar data kualitas udara tetap terpantau akurat.

Teknik Pemadaman dan Manggala Agni

Salah satu tantangan di lapangan adalah topografi gunungan sampah yang mencapai ketinggian 20–30 meter, sehingga api masih tersimpan di kedalaman tumpukan.

Untuk menjangkau titik api di bawah tumpukan, pemerintah menerjunkan 30 personel Manggala Agni dari Jawa Barat dan Sulawesi yang dianggap memiliki keahlian pemadaman kebakaran bawah tanah.

“Kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan injection (suntikan air) sampai ke titik di bawah. Karena kalau diairi dari atas saja itu kurang efektif, di bawahnya tetap terbakar,” ungkap Diaz.

Meski menggunakan teknik yang mirip pemadaman gambut, Diaz mengatakan diperlukan penyesuaian teknis karena kedalaman sampah jauh melebihi lapisan gambut pada umumnya. Peralatan injeksi juga membutuhkan pasokan air bersih dari PDAM agar pipa bertekanan tinggi tidak tersumbat lumpur.

“Jadi untuk yang gambut memang benar bahwa bawahnya itu mungkin ya 4-5 meter lah ya kedalamannya di bawah. Kalau di sini kita lihat aja gunungnya kan tinggi,” kata Diaz. “Jadi tadi ada penyesuaiannya, injection-nya itu harus dipanjangin ya dari Manggala Agni. Tapi yang paling penting itu bukan hanya ukuran panjangnya, tetapi airnya itu sendiri.”

Imbauan Pengelolaan Sampah

Diaz menegaskan peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sampah yang lebih baik, seperti penerapan sanitary landfill atau closed landfill, untuk mencegah akumulasi gas metana yang dapat memicu kebakaran.

“Jadi itu pentingnya sebenarnya kenapa TPA itu harus sanitary landfill atau closed landfill lah,” pungkas Diaz.