Jurnal Indonesia — Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk menginspirasi ratusan anak-anak Tanah Papua untuk bercita-cita besar dan berperan sebagai agen perubahan di daerah mereka. Pesan ini disampaikan saat kunjungan kerja ke Sekolah Lentera Harapan (SLH) Gunung Moria di Kabupaten Tangerang, Banten.
Di hadapan lebih dari 300 siswa yang berasal dari Tanah Papua, Ribka berbagi kisah perjalanan hidupnya. Ia menceritakan pengalamannya sebagai anak Papua yang berhasil meniti karier di pemerintahan, mulai dari posisi camat, bupati, kepala dinas, hingga menjadi Wamendagri.
Ribka menekankan pentingnya pendidikan dan ketekunan sebagai kunci meraih masa depan yang lebih baik. Ia mendorong para siswa untuk memanfaatkan kesempatan belajar yang ada saat ini. “Kamu harus jadi agent of change, kamu harus menjadi agen-agen yang bisa melakukan perubahan-perubahan. Hari ini nasib kita seperti ini, tapi besok kita tidak boleh seperti itu. Anda harus punya mimpi, Anda harus punya harapan, dan di sinilah tempat yang tepat,” ujar Ribka.
Ia mengenang perjuangannya menempuh pendidikan di Papua, termasuk merantau ke Jayapura untuk melanjutkan SMP dan SMA, serta menyelesaikan pendidikan tinggi di kota yang sama. Ribka juga berbagi cerita tentang keterbatasan saat menyusun skripsi, di mana ia hanya mengandalkan kopi dan tinggal di kos sederhana, namun tetap berhasil lulus dengan predikat terbaik.
“Saya waktu susun skripsi hanya minum kopi dan tidak punya makanan, tapi saya harus ketik terus skripsi saya, dan saya selesai dengan lulusan terbaik. Dan itu perjuangan saya harus mendaki gunung, harus pindah-pindah,” ungkapnya.
Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di birokrasi, Ribka semakin memahami esensi pendidikan dan pentingnya kemauan untuk terus belajar. Ia mengajak para siswa SLH Gunung Moria untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dalam mempersiapkan masa depan, karena kehidupan perlu direncanakan agar terus berkembang.
“Akhir dari cerita saya bahwa saya ingin hari ini kalian masuk 300 lebih, harus selesai juga 300 lebih, jangan sampai ada yang malas-malas, terus ada yang keluar kawin, lain-lain, harus (lulus) sesuai dengan cita-cita,” tegasnya.
Founder Yayasan Pendidikan Harapan Papua, Aileen Hambali Riady, turut menceritakan perjuangannya dalam mengembangkan pendidikan di Tanah Papua, termasuk di wilayah pedalaman. Ia melihat anak-anak di sana memiliki cita-cita mulia untuk melayani sesama, seperti menjadi dokter atau guru.
Aileen juga menyoroti semangat para guru yang bersedia mengajar di tengah berbagai tantangan, termasuk isu keamanan. Ia meyakini bahwa semangat pelayanan ini datang dari tuntunan Tuhan. “Begitu banyak guru-guru yang masuk ke pedalaman. Lalu juga dengan tantangan-tantangan keamanan. Namun guru-guru yang keluar bersedia masuk lagi dengan semangat, sukacita, dan banyak sekali hal, yang saya percaya, itu kalau bukan Tuhan, tidak mungkin,” tandasnya.
Dalam kunjungan tersebut, Wamendagri Ribka Haluk turut menyerahkan bantuan berupa sejumlah laptop kepada SLH Gunung Moria untuk mendukung kegiatan pembelajaran para peserta didik. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Direktur Utama Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) Jonathan L. Parapak, serta para peserta didik dan tenaga pendidik SLH Gunung Moria.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.