— JAKARTA – Pemerintah Indonesia telah merancang serangkaian strategi komprehensif untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, terutama dalam menghadapi periode paceklik dan menekan laju kenaikan harga kebutuhan pokok. Langkah-langkah ini disiapkan untuk memastikan pasokan yang cukup dan keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menjelaskan bahwa kondisi pangan tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Ia memprediksi periode September hingga Desember 2026 akan mengalami kemarau basah, yang masih memungkinkan petani untuk tetap melakukan penanaman padi dan menjaga ketersediaan beras di pasar.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bappenas menunjukkan adanya peningkatan harga beras medium dan premium pada periode Januari hingga September 2026. Harga beras medium naik dari Rp13.857 menjadi Rp14.060 per kg, sementara beras premium naik dari Rp15.505 menjadi Rp15.794 per kg. Kelangkaan beras premium turut memicu kenaikan harga beras secara umum.

Menyikapi tantangan ini, pemerintah memutuskan untuk menerapkan lima jurus utama demi memperkuat pasokan dan menjaga stabilitas harga pangan.

1. Penyaluran Beras SPHP Tambahan

Pemerintah akan menambah penyaluran beras jenis Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) medium sebesar 1 juta ton hingga Desember 2026. Alokasi ini difokuskan untuk memperkuat pasokan di pasar, khususnya pasar tradisional. Beras SPHP ini akan dijual dengan kisaran harga Rp12.000 hingga Rp12.500 per kilogram. “Kalau harga naik Rp 100 sampai Rp 200, kita respons dengan menambah supply. Kita banjiri pasar dengan beras SPHP sehingga harga bisa kita turunkan kembali,” ujar Zulhas.

2. Percepatan Penyaluran Bantuan Pangan

Bulog diminta untuk mempercepat penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat penerima manfaat desil 1 hingga desil 4, yang mencakup sekitar 33,2 juta jiwa. Bantuan ini berupa beras 10 kilogram per bulan selama tiga bulan (Juli-September 2026) yang akan disalurkan secara rapel, sehingga setiap keluarga menerima 30 kilogram sekaligus. “Ini kita minta Bulog selesaikan dalam bulan ini. Jadi masyarakat menerima sekaligus 30 kilogram. Kita ingin beras benar-benar sampai ke masyarakat,” tegas Zulhas.

3. Penambahan Alokasi Bantuan Pangan

Sebagai langkah lanjutan, pemerintah memutuskan untuk menambah penyaluran bantuan pangan sebanyak 1 juta ton pada Oktober, November, dan Desember 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat daya beli masyarakat berpendapatan rendah serta menjaga konsumsi pangan tetap terjangkau.

4. Dukungan Jagung untuk Peternak UMKM

Untuk mengantisipasi penurunan produksi jagung akibat kemarau, pemerintah menyiapkan pasokan jagung khusus bagi peternak kecil berskala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Bulog saat ini memiliki stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) sekitar 130 ribu ton dari target pengadaan 1 juta ton. Sekitar 150 ribu ton akan dialokasikan melalui SPHP Jagung untuk peternak UMKM, bukan industri besar. “Kita ingin peternak-peternak UMKM tidak terkena dampak kenaikan harga jagung. Musim kemarau membuat produksi turun dan harga naik, sehingga supply untuk peternak harus kita jaga,” jelas Zulhas.

5. Pemanfaatan Stok Beras Tua untuk Tepung

Menyikapi kenaikan harga tepung beras, pemerintah akan memanfaatkan stok beras yang telah berusia lebih dari 12 bulan dan mengalami penurunan mutu, namun masih layak untuk dijadikan bahan baku tepung. Kementerian Perindustrian memperkirakan kebutuhan beras untuk industri tepung beras mencapai 380.000 ton. Beras ini akan dilelang dengan harga minimal Rp11.000 per kilogram agar dapat diolah menjadi tepung beras. “Beras yang kurang mutu ini bisa dibeli oleh pabrik tepung untuk dijadikan tepung. Jadi kita harapkan kenaikan harga tepung beras juga bisa kita tekan,” pungkas Zulhas.