Jurnal Indonesia — Pasar aset kripto kembali dilanda volatilitas setelah harga Bitcoin (BTC) anjlok ke level terendah US$ 78.060 pada Kamis (10/9/2026). Meskipun sempat pulih ke kisaran US$ 78.340, pergerakan aset digital ini masih tertekan oleh dinamika suku bunga Amerika Serikat serta ketegangan geopolitik global.
Kenaikan harga minyak mentah turut menambah tekanan pada aset-aset berisiko. Saat ini, pelaku pasar menantikan rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) dan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang diproyeksikan akan menentukan kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) pada pertemuan September 2026.
Sinyal Teknis dan Dinamika On-Chain
Pendiri WazirX, Nischal Shetty, menilai struktur teknis Bitcoin menunjukkan dinamika yang menarik dengan sinyal daily golden cross yang mengindikasikan perbaikan momentum. Tantangan terbesarnya kini adalah mampukah Bitcoin merebut kembali dan mempertahankan posisinya di atas garis pergerakan rata-rata 50 pekan (50-week moving average).
Shetty menjelaskan bahwa posisi BTC saat ini sudah berada di atas 200-week moving average, yang secara historis menjadi area dukungan (support) jangka panjang yang krusial. Jika 50-week moving average berhasil diubah menjadi area dukungan baru, ekosistem kripto akan mendapatkan konfirmasi yang lebih kuat mengenai peralihan struktur pasar ke arah positif.
Dari sisi data on-chain, CEO Giottus, Vikram Subburaj, mencatat indikasi yang lebih konstruktif. Tekanan jual di dekat batas atas rentang harga saat ini tercatat kurang dari separuh tingkat puncak pada Agustus 2026. Pemegang jangka panjang (long-term holders) juga mayoritas memilih bertahan, meskipun keyakinan di pasar spot masih tergolong lemah dengan penurunan momentum mencapai 30%.
Minat Institusional Mulai Mendingin
Permintaan dari investor institusional melalui instrumen ETF Bitcoin spot di AS mulai melambat. Setelah mencatatkan arus masuk bersih (net inflows) sebesar US$ 770 juta pada 1–4 September 2026, data menunjukkan terjadi arus keluar bersih (net outflows) sebesar US$ 46,6 juta pada 8 September 2026, yang berlanjut dengan penarikan dana sebesar US$ 100,7 juta pada Rabu (9/9/2026).
Analis Riset Delta Exchange, Riya Sehgal, mengungkapkan bahwa pasar kripto masih bersikap hati-hati dan bergerak dalam rentang terbatas (range-bound). Kegagalan Bitcoin mempertahankan tren penguatan menuju US$ 79.700 membuatnya kembali tertahan di kisaran US$ 78.400.
Pada grafik empat jam (4H), BTC masih berada di bawah garis 50 EMA (US$ 78.900) dengan Relative Strength Index (RSI) di angka 43, mengindikasikan bias jangka pendek yang netral hingga cenderung melemah (bearish). Batas dukungan kunci berada di rentang US$ 77.600 – US$ 78.000, dan BTC membutuhkan dorongan untuk menembus US$ 79.000 serta US$ 79.800 – US$ 80.000 guna memperkuat momentum kenaikan.
Daftar Harga Kripto Utama
Di tengah ketidakpastian Bitcoin, beberapa aset altkoin mencatatkan pergerakan bervariasi. NEAR Protocol memimpin penguatan harian dengan kenaikan lebih dari 11,3%, diikuti Zcash (4,3%) dan Bitway (4,2%). Sebaliknya, Uniswap merosot lebih dari 11%, diikuti Sky (9%), serta Ethereum Classic, Worldcoin, dan Aerodrome Finance yang masing-masing terkoreksi lebih dari 8%. Indeks Crypto Fear and Greed menguat tipis ke level 73, menandakan sentimen pasar berada dalam kategori “Keserakahan” (Greed).
Berikut adalah posisi harga kripto utama per hari ini pukul 10:32 WIB:
- Bitcoin (BTC): US$ 78.340,73
- Ethereum (ETH): US$ 2.475,05
- Tether (USDT): US$ 0,9996
- XRP (XRP): US$ 1,39
- BNB (BNB): US$ 723,85
- Solana (SOL): US$ 101,86
- USDC (USDC): US$ 0,9999
- TRON (TRX): US$ 0,3396
- Hyperliquid (HYPE): US$ 84,17
- Zcash (ZEC): US$ 1.242,29
Head of Business Mudrex, Prateek Gupta, menambahkan bahwa jika tidak ada kejutan makroekonomi lebih lanjut, Bitcoin diproyeksikan akan bergerak mendatar dalam rentang US$ 77.000 hingga US$ 79.000.
Faktor Penentu yang Wajib Dipantau Investor
Head of Trade ZebPay, Harish Vatnani, menekankan bahwa risiko terbesar saat ini datang dari ketidakpastian makroekonomi dan regulasi. Pemungutan suara terkait CLARITY Act pada 15 September 2026, ketegangan perdagangan AS-Kanada, serta ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed berpotensi mengubah sentimen pasar secara cepat.
Ketahanan Bitcoin di dekat level US$ 79.000 menjaga struktur penguatan tetap utuh, namun pergerakan arus dana ETF tetap menjadi indikator utama yang harus dicermati.
Co-Founder & CEO Pi42, Avinash Shekhar, menambahkan, rilis data inflasi akan menjadi kompas arah pasar selanjutnya. Jika data inflasi melunak dan imbal hasil (yield) Obligasi Pemerintah AS (US Treasury) menurun, Bitcoin berpeluang menguat kembali dan mendorong apresiasi pada altkoin seperti Ethereum, XRP, dan Dogecoin.
Sebelum konfirmasi tersebut muncul, investor disarankan untuk tetap bijak, menghindari penggunaan leverage berlebihan, serta mencermati area support kuat di kisaran US$ 77.200 – US$ 78.000 dan area resistensi di US$ 79.700 – US$ 80.500.
Sensitivitas pergerakan harga Bitcoin terhadap data ekonomi makro AS dan harga komoditas global menandai fase baru dalam evolusi aset kripto. Sejak masuknya investor institusional secara masif melalui peluncuran ETF spot di bursa AS, Bitcoin tidak lagi bergerak secara terisolasi sebagai instrumen spekulatif ritel semata, melainkan makin terintegrasi dengan sistem keuangan global.
Kenaikan harga minyak mentah kerap memicu kekhawatiran berlanjutnya tekanan inflasi. Ketika inflasi melonjak, bank sentral seperti The Fed cenderung mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer). Suku bunga tinggi meningkatkan imbal hasil aset minim risiko seperti obligasi pemerintah, yang pada gilirannya menarik likuiditas keluar dari aset berisiko tinggi seperti saham teknologi dan kripto.
Selain itu, dinamika arus dana keluar (outflows) dari ETF Bitcoin menunjukkan investor besar cenderung mengambil langkah aman (risk-off) menjelang pengumuman kebijakan penting dan pemungutan suara regulasi. Kombinasi antara tekanan makroekonomi, tren inflasi, dan kejelasan kerangka hukum inilah yang kini menjadi landasan pergerakan pasar aset digital.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.