— Pangan bukan sekadar isu ketersediaan dan produksi, melainkan fondasi krusial untuk membangun manusia Indonesia yang sehat, produktif, dan memiliki daya saing tinggi. Perspektif ini diangkat dalam buku terbaru berjudul ‘Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul’.

Buku ini merupakan kolaborasi Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) bersama Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan Dirgayuza Setiawan. Peluncuran buku dilaksanakan dalam rangkaian IdeaFest 2026 pada Jumat, 4 September 2026.

Dalam buku tersebut, dibahas perjalanan pangan Indonesia yang berfokus pada sembilan komoditas strategis: beras, jagung, kedelai, daging ruminansia, daging ayam, ikan, telur, susu, dan gula. Pembahasan tidak hanya terbatas pada aspek produksi dan konsumsi, tetapi juga mengaitkannya dengan pemenuhan gizi serta kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

“Pangan adalah soal hidup. Tapi lebih dari itu, pangan adalah soal siapa kita sebagai bangsa,” ujar Zulkifli Hasan dalam keterangan pers yang dirilis pada Senin, 7 September 2026.

Zulkifli menjelaskan bahwa pemenuhan pangan merupakan elemen penting dalam upaya membangun kemandirian bangsa sekaligus menyiapkan SDM yang sehat dan produktif. Oleh karena itu, pencapaian di sektor pangan harus dilihat sebagai pijakan untuk membangun ekosistem pangan yang lebih kokoh.

Salah satu capaian yang disorot dalam buku adalah produksi beras nasional. Pada tahun 2025, produksi beras tercatat mencapai sekitar 34 juta ton, melebihi kebutuhan konsumsi nasional yang berkisar 31 juta ton. Angka ini menjadi salah satu pijakan penting Indonesia dalam perjalanannya menuju kedaulatan pangan.

Namun, Zulkifli menegaskan bahwa pencapaian tersebut bukanlah akhir dari perjuangan. “Tapi capaian ini bukan garis finis. Ini adalah garis start untuk kerja yang lebih besar, membangun pangan Indonesia untuk peradaban masa depan,” tegasnya.

Menurutnya, pembangunan ekosistem pangan memerlukan partisipasi aktif dari berbagai pihak, termasuk petani, nelayan, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat luas. Selain memastikan ketersediaan pangan, penting juga untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai sumber pangan dan nilai gizinya.

Bagian dari Identitas Bangsa

Dirgayuza Setiawan menambahkan bahwa buku ini memandang pangan sebagai elemen integral dari sejarah dan identitas bangsa Indonesia. Keragaman sumber pangan yang ada mencerminkan perbedaan pola konsumsi masyarakat di berbagai daerah di Tanah Air.

Beberapa jenis pangan yang kini umum dikonsumsi masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki sejarah yang relatif baru. Di sisi lain, berbagai sumber pangan lokal seperti sagu, talas, sukun, jewawut, jagung, dan umbi-umbian telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari pola makan masyarakat Nusantara.

“Buku ini berbicara tentang identitas bangsa. Tentang bagaimana pangan membentuk kesehatan, kecerdasan, produktivitas, dan daya saing manusia Indonesia,” ungkap Dirgayuza.

Buku ini terbagi dalam empat bab yang mengupas tuntas perjalanan Indonesia menuju kedaulatan pangan. Pembahasan dimulai dari makna kedaulatan pangan itu sendiri, hingga gambaran Indonesia pasca-mencapai kondisi tersebut. Cakupan materinya meliputi komoditas strategis, sejarah dan pola konsumsi pangan, berbagai kebijakan yang relevan, serta gambaran ekosistem pangan nasional.

Peluncuran buku di ajang IdeaFest 2026 dipilih sebagai momentum strategis untuk memperkenalkan isu pangan kepada audiens yang lebih luas. IdeaFest tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-15 dan mengusung tema ‘ReHumanize’.

Melalui buku ini, pangan diposisikan sebagai komponen sentral dalam agenda pembangunan manusia. Pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi yang memadai dinilai sebagai salah satu fondasi utama untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, yang bercita-cita menciptakan bangsa yang sehat, produktif, dan berdaya saing.