Jurnal Indonesia — Manggarai – Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026) pukul 05.46 WITA meninggalkan trauma mendalam bagi warganya. Salah satunya adalah Valentinus Jantur (39), seorang operator SPBU Mbaumuku 54.865.01, Ruteng.
Saat gempa terjadi, Valentinus sedang bersiap berangkat kerja. Guncangan hebat memaksanya segera menggendong sang anak dan berlari keluar rumah bersama keluarganya. “Kami langsung keluar rumah, tidak pakai lama. Besar sekali guncangannya. Kami langsung menggendong anak, lari keluar rumah,” ungkap Valentinus pada Sabtu (22/8/2026).
Keselamatan keluarga menjadi prioritas utama pada hari itu. Bersama lima keluarga lainnya, Valentinus dan keluarganya terpaksa mengungsi sementara di tenda darurat yang didirikan di depan rumah. Anak-anaknya pun belum dapat kembali bersekolah.
Trauma pascagempa masih membekas kuat. Rasa khawatir menyelimuti aktivitas sehari-hari, bahkan untuk sekadar masuk ke dalam rumah. “Gempa sekarang ini yang terbesar, yang paling parah. Kami masih takut, mau ke kamar mandi saja takut, masih trauma,” ujarnya.
Namun, sehari setelah gempa, Valentinus kembali mengenakan seragam kerjanya. Ia memilih untuk kembali bertugas di SPBU, melayani masyarakat yang juga tengah berjuang bangkit dari dampak bencana. Keputusan ini diambilnya karena menyadari kebutuhan energi masyarakat tidak berhenti meskipun dalam kondisi darurat.
Bahan bakar minyak (BBM) tetap dibutuhkan untuk mendukung mobilitas dan berbagai aktivitas pascagempa. “Sudah kewajiban melayani masyarakat. Tugas kami memang harus seperti itu, untuk melayani masyarakat terdampak,” katanya.
Keputusan Valentinus untuk kembali bekerja mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Baginya, menjalankan tugas di SPBU dan menjaga keluarganya adalah dua tanggung jawab yang sama-sama harus dijalankan. “Keluarga mendukung. Harus melayani walaupun dalam keadaan begini. Ada tanggung jawab untuk keluarga dan anak,” tuturnya.
Dukungan dari Pertamina, perusahaan tempatnya bekerja, turut membantu para operator SPBU yang terdampak gempa melewati masa pemulihan. Valentinus merasa perhatian tersebut menjadi penyemangat baginya untuk terus menjalankan tugas. Setelah memastikan keluarganya berada di tempat yang lebih aman, ia kembali berdiri di SPBU, melayani masyarakat yang sama-sama sedang berusaha pulih.
“Kami juga mendapat bantuan dari Pertamina. Kami berterima kasih atas bantuan yang diberikan sehingga kami sebagai operator tetap bisa melayani dan bertugas,” ucapnya.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menegaskan peran penting para operator SPBU sebagai garda terdepan pelayanan energi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Di tengah bencana, mereka tidak hanya menghadapi tanggung jawab pekerjaan, tetapi juga berjuang memulihkan kondisi keluarga masing-masing.
“Kami turut prihatin atas kondisi yang dialami teman-teman operator dan keluarganya. Pertamina hadir memberikan bantuan, dukungan, dan semangat agar mereka dapat melewati masa pemulihan, sekaligus tetap menjalankan perannya dalam menjaga layanan energi bagi masyarakat,” ujar Arya.
Menurut Arya, dedikasi para operator seperti Valentinus menjadi bagian penting dari upaya Pertamina menjaga kelancaran layanan energi di wilayah terdampak. “Di balik operasional SPBU yang tetap berjalan, terdapat para pekerja yang juga tengah menghadapi dampak bencana bersama keluarganya,” tutupnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.