— Kasus dugaan korupsi dana operasional Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang melibatkan mantan Direktur Utama Choirul Anwar kini menjadi sorotan publik. Seiring dengan pengusutan kasus tersebut, sejumlah foto lama satwa yang tampak kurus kembali beredar luas di media sosial, memicu kekhawatiran mengenai pengelolaan kesejahteraan hewan di lembaga konservasi itu.

Dugaan penyimpangan dana pakan satwa, yang merugikan negara senilai Rp 10,2 miliar, menjadi perhatian Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Salah satu foto yang paling banyak dibagikan adalah Melani, harimau Sumatera, yang pada tahun 2013 sempat dalam kondisi kritis dengan tubuh sangat kurus. Foto ini kemudian dikaitkan dengan perkara korupsi yang sedang diusut.

Menanggapi hal tersebut, keeper harimau Sumatera di KBS, Sumartono, menjelaskan bahwa menjaga kesehatan harimau tidak hanya soal pemberian makan harian, tetapi juga memastikan berat badan satwa tetap ideal. “Yang paling penting justru menjaga posturnya. Harimau tidak boleh terlalu gemuk, tapi juga tidak boleh terlalu kurus,” ujar Sumartono. Ia menambahkan bahwa kebutuhan pakan setiap harimau berbeda, disesuaikan dengan berat badan, postur, dan aktivitas masing-masing satwa, serta dievaluasi bersama tim yang terdiri dari kepala bagian, dokter hewan, dan ahli nutrisi.

Direktur Operasional dan Umum Perumda KBS, Nurika Widyasanti, menyatakan bahwa sebagian besar foto satwa kurus yang viral merupakan dokumentasi lama, diambil jauh sebelum KBS dikelola oleh Perusahaan Umum Daerah (Perumda). Foto-foto tersebut menampilkan satwa seperti Melani (harimau Sumatera, 2013), Bety (orang utan, mati 2013), Beno (beruang grizzly, tumor kulit 2010), dan Dumbo (gajah, mati 2021). “Jadi kalau untuk satwa-satwa yang saya lihat di gambar sebelumnya, seperti Melani, Bety, Beno atau siapa lagi ya ada beberapa satwa yang gambar itu merupakan gambar lama. Dan merupakan satwa kurang lebih di saat itu belum dalam pengelolaan Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya,” jelasnya.

Nurika menegaskan bahwa foto-foto tersebut diunggah kembali dan bukan mewakili kondisi satwa KBS saat ini. Ia juga menambahkan bahwa selama periode dugaan korupsi 2016-2024, hanya tercatat satu kematian satwa, yaitu gajah Dumbo pada tahun 2021 akibat penyakit, dan bukan karena kelalaian. “Adapun terjadinya satwa mati itu pastinya sesuatu hal kematian yang normal, bukan menjadi suatu kematian yang dikarenakan kelalaian dan lain sebagainya,” kata Nurika.