Jurnal Indonesia — Malang – Dinamika hubungan antara generasi muda, partai politik, dan gagasan nasionalisme di era digital menjadi topik hangat dalam diskusi RedTalks bertajuk “Indonesia Punya Kita”. Acara ini secara khusus membahas tema ‘Anak Muda dan Partai Politik: Masih Percaya atau Sudah Kehilangan Harapan?’.
Perpaduan perspektif dari kalangan akademisi, aktivis, komika, hingga politisi muda mengurai berbagai alasan di balik skeptisisme generasi muda terhadap politik modern. Akademisi Suko Widodo menyoroti pergeseran nilai dalam interaksi masyarakat pasca disrupsi teknologi dan pandemi.
Menurut Suko, partai politik perlu merefleksikan kembali akar perjuangannya agar tidak kehilangan sentuhan dengan rakyat. “Hari ini banyak orang saling berbincang tapi tidak berkomunikasi. Banyak orang yang bertemu, tapi tidak berjumpa,” ujar Suko Widodo. Ia menekankan pentingnya partai politik untuk merangkul kembali masyarakat kelas bawah. “PDI dulu terkenal dengan wong cilik, hari ini sudah gede-gede semua. Apa yang disampaikan untuk kembali ke marhaen, saya kira jadi entry point untuk PDIP harus kembali ke jalan yang benar,” tambahnya.
Skeptisisme dan jarak antara anak muda dan partai politik juga diakui oleh budayawan Dwi Cahyono. Ia melihat potensi besar di wilayah Malang Raya yang belum terwadahi secara efektif dalam sistem politik formal. “Apakah orang-orang muda tidak memiliki kepedulian terhadap politik? Sangat peduli. Hanya saja, apakah kemudian memilih memperjuangkan kepedulian politiknya melalui partai politik atau tidak, sampai saat ini belum,” jelas Dwi Cahyono. Ia menganggap sikap skeptis generasi muda sebagai bentuk evaluasi yang wajar. “Skeptis sebagai sikap ini dibutuhkan karena dengan mengambil jarak maka ada evaluasi, termasuk evaluasi terhadap partai politik,” kuncinya.
Ketua PMII Cabang Kota Malang Benny Miftahul Arifin melihat perlunya edukasi dan akomodasi ruang yang lebih riil dari partai politik hingga ke tingkat terbawah. “Arah ke depannya, teman-teman ini untuk mau join ke partai itu harus mikir-mikir dua kali dan banyak sekali. Jadi lebih banyak tiarap dan fokus ke individual aja,” kata Benny. Ia berharap ruang diskusi seperti RedTalks dapat menjangkau masyarakat bawah. “Kalau bisa jangan hanya di sini, kalau bisa sampai ke akar-akar bawah, karena masalah itu ada di bawah, tidak ada di atas,” tegasnya.
Dari sudut pandang komunikasi dan media sosial, komika Dewangga menggarisbawahi pentingnya pendekatan visual dan branding yang tepat agar pesan politik dapat diterima generasi masa kini. “Perannya anak muda sekarang itu di sosmed. Kita harus jago-jago ngebranding supaya orang tuh mau ngelihat kita apa,” papar Dewangga. Ia mencontohkan bagaimana humor dan kata kunci sederhana di media sosial bisa merekat kuat dalam ingatan publik. “Partai politik harus melek dengan branding, dan yang laku di sosial media untuk masa yang sekarang dan masa yang akan datang harus dimengerti juga,” lanjutnya.
Senada dengan Dewangga, aktivis GMNI M Alif Firdaus menegaskan bahwa cara penyampaian yang ringan dan relevan jauh lebih efektif menarik perhatian anak muda dibanding agenda politik formal lima tahunan. “Ketika yang disampaikan hanya lelucon, itu malah lebih teringat kepada anak muda. Peran anak muda di zaman sekarang maupun di media sosial itu sangat sentral, entah kita membuat video terkait nanti kita ke depan mau apa, branding kita seperti apa, itu pasti akan dilihat,” ungkapnya.
Komika senior Abdel Achrian memberikan catatan kritis terkait bagaimana partai politik mengemas pesan mereka agar tidak terkesan kaku. “Packaging-nya di zaman sekarang penting. Begitu masuk anak muda ke partai politik, kosakatanya udah mulai berganti bukan kosakata anak muda lagi, kosakatanya kosakata birokrat banget,” tutur Abdel dengan nada humoris namun tajam.
Pengamat politik Rocky Gerung menekankan bahwa pertarungan politik bagi anak muda harus dilandasi oleh argumen dan ideologi yang kuat, bukan hanya sentimen. “Kalau Anda cuma memproduksi rasa iri atau jengkel, itu artinya Anda cuma memproduksi sentimen. Yang kita perlukan adalah argumen,” tegas Rocky Gerung. Ia mendorong generasi muda untuk berani menantang gagasan partai politik dengan pemikiran intelektual. “Mari kita bertengkar dengan argumen dan dengan arah ideologis. Hanya dengan itu negeri ini bisa dihasilkan kembali. Silakan pacaran, tapi jangan lupa berpikir,” pesannya.
RedTalks 2026 mengusung tema “Indonesia Punya Kita: Nasionalisme Tanpa Batas Generasi”, dirancang sebagai ruang dialog terbuka untuk bertukar gagasan, kritik, dan otokritik konstruktif. Tema ini menegaskan bahwa masa depan Indonesia adalah tanggung jawab seluruh generasi, dengan anak muda sebagai penggerak perubahan.
Acara ini akan membahas dua topik utama: “Anak Muda dan Partai Politik: Masih Percaya atau Sudah Kehilangan Harapan?” yang mengulas skeptisisme generasi muda terhadap partai politik, serta “Mandiri atau Menyerah? Jalan Anak Muda Membangun Masa Depan di Tengah Ketidakpastian” yang membahas kewirausahaan, ekonomi kreatif, dan peran negara.
Talk show interaktif ini akan menghadirkan narasumber seperti Rocky Gerung, Dwi Cahyono, Qintharra Ulya Yassifa, Dr. Silvi Asna Prestianawati, Dr. Suko Widodo, Abdel Achrian, Dewangga, serta perwakilan dari BEM Universitas Brawijaya, BEM Universitas Wisnuwardhana, GMNI Malang, dan PMII Kota Malang.
RedTalks 2026 akan digelar pada Sabtu, 25 Juli 2026, pukul 10.00-13.00 WIB, di Auditorium Malang Creative Center (MCC). Acara ini juga dapat diikuti melalui siaran langsung.
Ikuti Jurnal Indonesia
