— Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031 dinilai menjadi momentum krusial untuk menguatkan kembali sektor ekonomi dan investasi di kalangan Nahdliyin. Penguatan ini diharapkan dapat dicapai melalui optimalisasi aset, pengembangan wakaf produktif, serta pembangunan ekosistem usaha yang lebih kokoh bagi warga NU.

Dr. A. Iskandar Zulkarnain, yang menjabat sebagai Badan Pelaksana/CIO (Chief Investment Officer) BPKH periode 2017–2022, menyoroti latar belakang Gus Kikin yang unik. Ia memandang Gus Kikin sebagai figur yang mampu menjembatani dunia pesantren dengan dunia bisnis. Gus Kikin, yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dan juga cicit dari pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari, memiliki pengalaman sebagai profesional di BUMN sebelum akhirnya aktif di dunia usaha, termasuk di sektor pertambangan.

“Gus Kikin dapat dipandang sebagai seorang pebisnis yang juga seorang kiai, sekaligus seorang kiai yang sangat memahami seluk-beluk bisnis. Kombinasi ini sangat relevan ketika NU memasuki usianya yang memasuki abad kedua, sebuah periode yang menuntut penguatan di bidang ekonomi, investasi, dan pengelolaan aset yang profesional,” ujar Iskandar dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).

Menurut Iskandar, gagasan penguatan ekonomi di kalangan NU memiliki akar sejarah yang panjang. Jauh sebelum NU resmi berdiri pada tahun 1926, para ulama dari kalangan pesantren telah merintis gerakan Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Para Saudagar pada tahun 1918. Gerakan ini salah satunya dipelopori oleh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah.

Tradisi ini juga terlihat dalam kepemimpinan NU selanjutnya. Hasan Gipo, yang merupakan Ketua Tanfidziyah NU pertama, dikenal luas sebagai seorang saudagar dan pengusaha yang memberikan kontribusi signifikan dalam menopang perkembangan organisasi. “Ini menunjukkan bahwa kiai, saudagar, dan kepemimpinan NU bukanlah entitas yang terpisah. Para pendiri NU sangat memahami bahwa perjuangan umat membutuhkan kemandirian ekonomi,” jelasnya.

Iskandar berpendapat bahwa penempatan kembali Qanun Asasi, yang merupakan karya monumental KH. Hasyim Asy’ari, sebagai pedoman utama NU dalam memasuki abad keduanya, dapat diterjemahkan sebagai upaya konsolidasi jamaah, aset, dan modal. “Pada abad pertama, NU berhasil membangun kekuatan sosial (social power) melalui jaringan jamaah yang sangat luas. Abad kedua ini menjadi momentum untuk mentransformasikan kekuatan sosial tersebut menjadi kekuatan ekonomi (economic power) dan kekuatan investasi (investment power) demi kemaslahatan umat,” tuturnya.

Mesin Ekonomi Nahdliyin

Iskandar menambahkan bahwa NU memiliki potensi besar yang bersumber dari jamaahnya yang melimpah, jaringan pesantren, lembaga pendidikan dan kesehatan, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), para pengusaha, serta berbagai aset sosial dan wakaf. Aset-aset yang saat ini belum dimanfaatkan secara optimal memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi aset yang produktif. Selain itu, para pengusaha yang bernaung di bawah NU dapat berperan sebagai investor jangkar bagi pengembangan UMKM.

“NU memiliki modal berupa aset, jaringan (network), dan pasar (market). Ketiga elemen ini perlu disandingkan dengan modal finansial (capital), manajemen profesional, dan disiplin investasi. Aset umat harus dikelola agar menjadi produktif dan mampu menghasilkan manfaat yang berkelanjutan,” tegas Iskandar.

Ia menekankan pentingnya pengelolaan aset dan investasi dilakukan secara profesional, hati-hati (prudent), transparan, dan memberikan dampak positif. Hal ini dikarenakan apa yang dikelola bukan sekadar modal, melainkan juga kepercayaan dan amanah besar dari umat. Penguatan ekonomi NU ini diharapkan dapat berjalan beriringan dengan upaya yang dilakukan oleh Muhammadiyah, yang telah memiliki jaringan amal usaha yang kuat di sektor pendidikan dan kesehatan.

“Muhammadiyah dengan jaringan amal usahanya yang mapan, sementara NU memiliki keunggulan pada pesantren, jamaah, para saudagar, dan ekonomi kerakyatan. Meskipun model pengembangannya berbeda, kedua organisasi ini dapat menjadi dua mesin ekonomi umat yang saling melengkapi dan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional,” imbuhnya.

Menurut Iskandar, kepemimpinan Gus Kikin membuka peluang besar untuk membangkitkan kembali semangat Nahdlatut Tujjar di era abad ke-21. Hal ini dapat diwujudkan melalui lahirnya para pengusaha santri, pengelolaan aset umat yang lebih produktif, serta transformasi modal sosial menjadi modal investasi. “NU di abad kedua ini harus menjadi momentum kebangkitan ekonomi dan investasi Nahdliyin. Ini berarti kita membutuhkan kiai yang memahami ekonomi, pengusaha yang peduli pada umat, pesantren yang produktif, dan investasi yang manfaatnya kembali secara nyata kepada jamaah,” pungkas Iskandar.