— Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menunjuk Kabupaten Kebumen sebagai salah satu dari dua lokasi percontohan nasional untuk Program Rice Journey. Program ini dirancang untuk membangun sistem tata kelola perberasan nasional yang komprehensif berbasis data, dengan tujuan utama memperkuat ketahanan pangan dan mendukung pencapaian swasembada pangan nasional.

Pemilihan Kebumen ini mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) bertajuk Kebijakan Berbasis Data (Data-Driven Policy) Tata Kelola Komoditas Beras yang diselenggarakan di Trio Azana Style Hotel Kebumen, Jawa Tengah. Desa Grenggeng di Kecamatan Karanganyar dipilih sebagai lokasi kajian spesifik dalam penelitian ini. Desa tersebut dinilai memiliki potensi yang signifikan, meliputi hamparan sawah produktif, komunitas petani yang aktif, aksesibilitas memadai, serta mampu merepresentasikan kekuatan dan tantangan sektor pertanian di Kebumen.

Suhanto, Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Pangan, menyatakan bahwa Indonesia saat ini berhasil mencatat surplus beras sebesar 5,23 juta ton, sebuah pencapaian historis. Menurutnya, Program Rice Journey merupakan langkah strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di sektor pangan. “Indonesia saat ini mencatat surplus beras sebesar 5,23 juta ton, yang merupakan capaian tertinggi sepanjang sejarah. Program Rice Journey menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat sistem pengambilan keputusan di sektor pangan,” ujar Suhanto.

Melalui kolaborasi dengan BRIN, pemerintah sedang mengembangkan Executive Decision Dashboard Rice Journey. Sistem pendukung keputusan (Decision Support System/DSS) ini akan mengintegrasikan data komoditas beras secara menyeluruh, mulai dari tahap budidaya, panen, penggilingan, stok, distribusi, pasar, hingga konsumsi. Dashboard ini tidak hanya menyajikan data terkini, tetapi juga mampu melakukan analisis risiko, simulasi berbagai skenario, dan memberikan rekomendasi kebijakan yang akurat berdasarkan data. Sistem ini diproyeksikan berfungsi sebagai sistem peringatan dini (early warning system) untuk memantau produksi beras nasional, memungkinkan pemerintah merespons dengan cepat dan tepat.

Wakil Bupati Kebumen, Zaeni Miftah, menyambut baik kepercayaan pemerintah pusat. Ia menegaskan bahwa Kebumen, sebagai produsen beras terbesar kedelapan di Jawa Tengah, memiliki potensi besar sebagai lumbung pangan. Pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan produktivitas melalui penyediaan alat dan mesin pertanian, perluasan area tanam hingga target 170 ribu hektare, serta pengembangan sistem irigasi pompa untuk memungkinkan petani meningkatkan intensitas tanam dari dua menjadi tiga kali dalam setahun.

Zaeni juga berharap agar penyerapan gabah oleh Perum Bulog dapat terus dioptimalkan. Produksi gabah di Kebumen yang telah melampaui kebutuhan konsumsi daerah diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Dalam implementasi Program Rice Journey, setiap organisasi perangkat daerah (OPD) diharapkan dapat menyediakan data yang terstandar, terintegrasi, dan interoperabel. Dinas Komunikasi dan Informatika akan berperan sebagai walidata, memastikan integrasi data, metadata, dan arsitektur pertukaran data antarperangkat daerah.

FGD ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan pemerintah pusat dan daerah, peneliti BRIN, Perum Bulog, BPS Kebumen, serta pelaku usaha pertanian. Program Rice Journey diharapkan dapat menjadi model pengelolaan data komoditas beras yang efektif dan dapat direplikasi di seluruh Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui kebijakan yang lebih akurat dan berbasis data.