— Jakarta – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri melaksanakan tabur bunga di monumen patung Kerusuhan Dua Tujuh Juli (Kudatuli). Kegiatan ini dilakukan untuk mengenang para korban tragedi yang terjadi 30 tahun lalu.

Acara tabur bunga yang berlangsung pada Senin (27/7/2026) di depan Kantor DPP PDI Perjuangan, Menteng, Jakarta Pusat, turut dihadiri oleh putra Megawati yang juga Ketua DPP PDIP, Prananda Prabowo. Dalam kesempatan tersebut, Megawati memanjatkan doa untuk para korban tragedi Kudatuli.

Turut mendampingi Megawati dalam acara tersebut adalah kedua putri Wakil Presiden Pertama RI Mohammad Hatta, yaitu Meutia Hatta dan Halida Hatta. Hadir pula pemahat monumen patung Kudatuli, Dolorosa Sinaga, serta Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Seluruh hadirin yang mengikuti prosesi tabur bunga dan peletakan karangan bunga tampak mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol suasana berkabung.

Monumen patung Kudatuli diresmikan oleh Megawati pada hari yang sama, bertepatan dengan peringatan 30 tahun tragedi Kudatuli. Monumen ini berdiri di sisi depan Kantor DPP PDI Perjuangan di Menteng, Jakarta Pusat.

Megawati menjelaskan bahwa monumen Kudatuli merupakan hasil kontemplasinya yang terinspirasi dari cita-cita sang ayah, Bung Karno, untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka. “Saudara-saudara sekalian yang saya cintai, secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada seniwati yang saya kenal dan cintai. Saya memanggilnya Mbak Dolorosa Sinaga, yang telah menggambarkan dengan baik terhadap apa yang saya kontemplasikan selama ini,” ujar Megawati saat peresmian.

Ia menambahkan, kontemplasi tersebut melibatkan proses berpikir, merenung, dan berdoa. “Kontemplasi itu berpikir, merenung, berdoa. Lalu kita, saya selalu berdoa, mengatakan kepada Allah subhanahuwata’ala, kapan akan berhenti keadaan Republik Indonesia yang dicita-citakan oleh bapak saya menjadi sebuah negara yang mandiri, yang kaya raya, rakyatnya hidupnya sejahtera, aman, dan sentosa,” lanjutnya.

Menurut Megawati, monumen ini melambangkan kesabaran revolusioner yang lahir dari keyakinan, keteguhan, dan keberanian. Dalam kontemplasinya, ia melihat perjalanan hidupnya sendiri dan merangkumnya menjadi sebuah ungkapan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk patung Kudatuli.

“Kita kalau yakin dalam kehidupan dan setelah itu tahu untuk apa kita punya keyakinan, maka harus punya keteguhan dan keberanian. Setelah itu, di dalam menjalankannya, kita tidak pernah boleh putus asa. Oleh sebab itu, kita harus punya kesabaran revolusioner,” terangnya.

Megawati kemudian menguraikan lebih lanjut makna kesabaran revolusioner. Ia mendefinisikannya sebagai kemampuan untuk mencari jalan keluar dari berbagai rintangan yang mencoba menghentikan langkah. “Apa arti kesabaran revolusioner? Adalah kalau kita terbentur oleh penghalang, maka kita tidak jangan berdiam diri. Kita pergilah perlahan-lahan untuk menghindarinya. Kesemuanya itu sebenarnya harus diajarkan kepada para rakyat kita di mana pun mereka berada. Kesemuanya yang empat itu menyatu dalam sebuah keyakinan yang kental, bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang,” pungkasnya.