Jurnal Indonesia — JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menduduki peringkat teratas dalam daftar menteri berkinerja terbaik di Kabinet Merah Putih. Penilaian ini dirilis oleh Government Performance Assessment IndexPolitica Indonesia pada September 2026, menempatkan Amran di posisi puncak dengan skor 91.
Skor tersebut diperoleh melalui evaluasi berbasis bukti dan analisis keputusan kriteria majemuk, yang mempertimbangkan data statistik sektoral serta dokumen resmi pemerintah. Keberhasilan Amran dinilai berkat orkestrasi kebijakan pertanian yang berhasil meningkatkan produksi padi nasional sebesar 13,29 persen.
Selain itu, kebijakan penggandaan alokasi pupuk bersubsidi, penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah, serta peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) juga menjadi faktor kunci capaian tersebut.
Menanggapi hasil penilaian ini, Ketua Umum Pengurus Besar Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI), Ahmad Jundi Khalifatullah, menyatakan apresiasinya. Ia menilai pengakuan ini sejalan dengan kondisi yang dirasakan langsung oleh para petani di lapangan.
“Petani tahu siapa yang bekerja untuk mereka. Ketika produksi meningkat, pupuk diperkuat, dan harga gabah dijaga, petani bisa melihat langsung keberpihakan pemerintah,” ujar Jundi dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi lonjakan produksi padi Indonesia pada 2025 yang mencapai 60,21 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat 7,06 juta ton dari tahun sebelumnya. Produksi beras konsumsi juga naik menjadi 34,69 juta ton, dengan luas panen yang meluas hingga 11,32 juta hektare.
Ketua Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan PP KAMMI, Aulia Furqon, menambahkan bahwa kenaikan produksi ini didukung oleh penguatan sarana produksi yang signifikan dari pemerintah. “Pemerintah menaikkan alokasi pupuk bersubsidi menjadi 9,55 juta ton pada 2025, naik sekitar 100 persen dari sebelumnya. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak sekadar meminta petani meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat kebutuhan utama mereka dari sisi input,” jelas Aulia.
Penguatan dukungan terus berlanjut pada 2026 dengan alokasi pupuk bersubsidi yang tetap dijaga sebesar 9,55 juta ton, di mana realisasi penyalurannya telah mencapai 54,28 persen per 25 Juni 2026.
Di sisi hilir, pemerintah memastikan kepastian harga melalui penetapan HPP gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram. Langkah ini juga didukung oleh upaya penyerapan optimal oleh Bulog dan pelaku usaha.
Dampak positif dari kebijakan hulu ke hilir ini tercermin pada indikator kesejahteraan petani. BPS melaporkan NTP nasional pada Juli 2026 mencapai 127,84, dengan subsektor tanaman pangan mencatat kenaikan 1,32 persen secara bulanan.
KAMMI mendorong agar keberhasilan pengelolaan komoditas padi ini dapat dijadikan contoh untuk komoditas strategis lainnya, seperti jagung, kedelai, hortikultura, perkebunan rakyat, dan peternakan. Selain itu, peningkatan produksi di masa depan diharapkan terus memperhatikan efisiensi pupuk, kesehatan tanah, ketersediaan air, dan adaptasi terhadap perubahan iklim demi keberlanjutan lingkungan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.