Jurnal Indonesia — Pencarian lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, menghadapi kendala asap vulkanik yang membatasi jarak pandang udara. Kepala Basarnas, Marsekal Madya M Syafii, menyatakan helikopter belum dapat mengamati secara optimal dari ketinggian karena asap yang masih berada di bawah 1.500 meter.
Untuk memaksimalkan upaya pencarian, Basarnas telah mengerahkan helikopter Dauphin AS365 N3+ dengan nomor registrasi HR-3604. Helikopter ini diberangkatkan dari Lanud Atang Sendjaja pada pukul 12.36 WIB dan direncanakan mendarat di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada pukul 12.52 WIB. Pengerahan helikopter ini merupakan bagian dari penguatan dukungan udara dalam operasi SAR di wilayah Gunung Anak Krakatau dan Perairan Selat Sunda.
Pencarian Meluas Dibantu Nelayan
Memasuki hari ketiga pencarian, tim SAR gabungan telah memperluas area pencarian menjadi 2.109 NM². Sebanyak enam kapal dikerahkan hari ini, meliputi KRI Lepu, KN SAR Tetuka, KN SAR Basudewa, KAL Pohawang, KP Sanjaya, dan RIB 02 Banten. Selain itu, sebanyak 130 nelayan di Pulau Sebesi, Lampung Selatan, turut serta membantu pencarian.
Nelayan diminta untuk memantau laut saat beraktivitas mencari ikan dan melaporkan jika menemukan speedboat yang hilang atau objek mencurigakan. Kepala Desa Tejang, Pulau Sebesi, Syamsiar, menginstruksikan 13 kelompok nelayan yang memiliki sekitar 130 anggota untuk aktif memantau perairan. Upaya ini dilakukan meski kondisi cuaca laut di jalur menuju Gunung Krakatau sedang tidak bersahabat, dengan ombak besar dan angin kencang.
Pulau Sebesi sendiri merupakan salah satu wilayah terdekat dengan kawasan Gunung Anak Krakatau, dengan waktu tempuh menggunakan kapal nelayan sekitar 3-4 jam dari Desa Tejang.
DPR Minta Pendampingan Keluarga Korban
Menanggapi musibah ini, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah untuk memberikan pendampingan yang optimal bagi keluarga jurnalis dan kru kapal yang hilang. Puan menekankan pentingnya keluarga mendapatkan informasi terkini secara berkala serta pendampingan psikologis selama proses pencarian berlangsung.
Puan menyatakan bahwa pengabdian jurnalis dalam memberikan informasi kepada publik harus diiringi dengan kepastian perlindungan. Hal ini dapat diwujudkan melalui operasi pencarian yang maksimal. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menjauhi area berbahaya dan selalu mematuhi imbauan petugas berwenang.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.