— Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Nasyirul Falah Amru atau akrab disapa Gus Falah, menyayangkan insiden bentrokan antarkelompok yang terjadi di Jalan Tambak, Kelurahan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat. Ia mendesak agar kasus ini diusut hingga tuntas.

“Kita sangat menyayangkan adanya peristiwa di jalan Tambak kemarin dan sangat prihatin atas apa yang terjadi karena peristiwa ini adalah sesuatu yang berulang kembali,” kata Gus Falah dalam keterangannya, Senin (27/7/2026).

Menurut Gus Falah, bentrokan tersebut seharusnya dapat diantisipasi. Ia menekankan pentingnya partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah ibu kota.

“Kita bersama-sama harus menjaga suasana kondusif di Jakarta,” ujarnya. “Apapun itu alasannya, apa yang mereka lakukan itu tidak dibenarkan di mata hukum.”

Lebih lanjut, Gus Falah meminta kepolisian untuk mengusut tuntas kasus yang telah menimbulkan korban jiwa ini. Ia berharap penanganan perkara tersebut dapat menunjukkan profesionalisme aparat penegak hukum.

“Kita minta kepolisian untuk mengusut, apalagi sudah ada korban. Namun saya sangat yakin, pihak kepolisian bisa menyelesaikan masalah ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, pihak kepolisian telah menetapkan tujuh orang sebagai tersangka terkait peristiwa bentrokan maut di kawasan Jalan Tambak, Menteng, Jakarta Pusat. Ketujuh tersangka tersebut berasal dari dua insiden yang berbeda.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menjelaskan bahwa peristiwa pertama berkaitan dengan aksi perusakan. Insiden ini dipicu oleh sebuah kelompok yang merasa tidak terima ditegur oleh warga karena menggunakan knalpot berisik.

“Kejadian ini berawal dari suara kebisingan knalpot. Kebisingan knalpot, sehingga mengganggu warga lainnya. Dan ini diteriaki, sehingga yang bersangkutan tidak terima, kembali ke lokasi tetapi yang meneriaki sudah tidak ada di lokasi kejadian,” kata Budi di Jalan Matraman Dalam, Jakarta, Senin (27/7).

Kelompok tersebut kemudian menunjukkan emosi dan melakukan perusakan terhadap gerobak makanan milik pedagang. Tindakan ini tidak diterima oleh warga, yang kemudian memicu terjadinya peristiwa kedua berupa kericuhan dan penganiayaan.