— JAKARTA – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Wibowo memperkenalkan program baru bernama Polantas KARIB (Kemitraan, Aktif, Responsif, Intuitif, dan Berintegritas). Program ini dirancang untuk mempererat hubungan emosional dan meningkatkan kualitas pelayanan kepolisian lalu lintas kepada masyarakat di seluruh Indonesia.

Irjen Wibowo menjelaskan bahwa Polantas KARIB merupakan wujud transformasi kultural jajaran Polantas agar lebih dekat dan dicintai publik, sejalan dengan arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Ia mengungkapkan impiannya untuk menghadirkan sosok polisi lalu lintas yang tidak kaku, melainkan humanis, serta menjadi pelindung dan pengayom masyarakat.

“Kalau kita pakai istilah anak Gen Z sekarang ini, bestie. Polantas adalah bestie-nya masyarakat. Hubungan ini tentunya dilandasi oleh sebuah kepercayaan, bukan karena kewenangan atau kekuasaan,” ujar Irjen Wibowo dalam sebuah program yang ditayangkan di detikcom.

Ia menekankan pentingnya membangun kedekatan antara Polantas dan masyarakat atas dasar rasa saling percaya dan kepedulian bersama terhadap keselamatan di jalan raya, bukan karena ketakutan terhadap penegakan hukum.

Lima Pilar Utama Polantas KARIB

Untuk mewujudkan polisi sebagai sahabat masyarakat, Kakorlantas memerinci lima pilar fundamental yang menjadi acuan bertindak bagi seluruh personel lalu lintas:

  • Kemitraan: Membangun kolaborasi luas dengan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder), komunitas, dan elemen masyarakat dalam mengelola keamanan, keselamatan, ketertiban, serta kelancaran lalu lintas (kamseltibcarlantas).
  • Aktif: Mendorong personel untuk senantiasa hadir dan berperan aktif di tengah masyarakat sebelum potensi masalah atau kemacetan timbul.
  • Responsif: Menuntut kesigapan petugas dalam merespons cepat setiap aduan, kemacetan, maupun kondisi darurat jalanan secara tepat dan adil.
  • Intuitif: Mengasah kepekaan dan kepedulian personel di lapangan agar tidak apatis terhadap kesulitan pengguna jalan.
  • Berintegritas: Menjadikan kejujuran dan profesionalisme sebagai benteng utama dalam menjalankan tugas pelayanan maupun penegakan hukum.

“Kemitraan. Kita harus bermitra dengan berbagai macam stakeholder terkait, termasuk melibatkan masyarakat dan komunitas-komunitas di dalamnya. Kemudian, kita harus berperan secara aktif,” tutur Irjen Wibowo.

Selain itu, Polantas dituntut untuk merespons cepat setiap permasalahan di masyarakat secara tepat dan adil. “Kemudian, harus ada intuisi sense of crisis. Ada kepedulian dan tidak apatis terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul di masyarakat. Yang paling utama, kita harus memiliki integritas,” tambahnya.

Program Polantas KARIB kini telah diimplementasikan secara serentak oleh jajaran Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda hingga Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres di seluruh wilayah Indonesia. Implementasi ini diwujudkan dalam berbagai aksi nyata, mulai dari peningkatan kualitas pelayanan publik humanis di sentra SIM dan Samsat, sosialisasi keselamatan berlalu lintas ke berbagai kalangan, aksi tanggap darurat seperti membantu kendaraan mogok, hingga edukasi persuasif bagi pelanggar lalu lintas.

Dengan berjalannya program ini secara masif, Korlantas Polri optimistis tingkat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian akan terus meningkat, seiring terwujudnya kamseltibcarlantas yang kondusif di Tanah Air.