Jurnal Indonesia — Analis memprediksi harga emas akan kembali memasuki tren kenaikan di sisa tahun 2026. Prediksi ini didukung oleh beragam sentimen global, termasuk kondisi geopolitik yang tidak menentu, tren dedolarisasi, serta kekhawatiran akan devaluasi mata uang dolar Amerika Serikat.
Dikutip dari Goldinvest, Jumat (11/9/2026), bank investasi asal Kanada, RBC Capital Markets, memprediksi harga emas masih berpeluang untuk mendekati US$ 5.000 per troy ounce di tahun 2026. Para ahli di RBC Capital Markets memperkirakan harga emas akan berada di kisaran US$ 4.500 hingga US$ 5.000 per troy ounce selama sisa tahun ini.
Ahli komoditas di RBC Capital Markets, Christopher Louney, mengungkapkan dalam studi terbarunya bahwa faktor-faktor fundamental yang menggerakkan harga emas masih sangat kuat. Faktor utama yang mendorong investor mengalokasikan dana ke emas adalah ketidakpastian pasar yang terus berlanjut. Ketidakpastian ini dipicu oleh perang dagang, ketegangan geopolitik, hingga lonjakan utang negara-negara ekonomi besar.
Ditambah dengan kinerja serta korelasinya yang rendah terhadap kelas aset lainnya, emas semakin memantapkan posisinya sebagai komponen strategis dalam pengelolaan aset profesional. Hal ini membuat emas menjadi pilihan menarik di tengah volatilitas pasar.
Untuk paruh kedua tahun 2026, para analis cenderung mengarah pada batas atas kisaran perkiraan harga emas. Dalam skenario bullish atau optimistis, RBC Capital Markets memproyeksi harga emas dapat mencapai level US$ 4.929 per troy ounce pada akhir tahun 2026. Sementara itu, untuk tahun 2027, proyeksi RBC menunjukkan harga emas bisa mencapai puncak di angka US$ 5.296 per troy ounce.
RBC membeberkan, salah satu pendukung utama proyeksinya adalah minat beli emas dari bank sentral global yang kuat. Dijelaskan bahwa pembelian emas besar-besaran yang terus dilakukan oleh bank sentral menjadi fondasi bagi permintaan logam mulia tersebut, sehingga kenaikan harga bisa berlanjut. Selain volume fisik yang besar, transaksi institusional diyakini memperbesar kepercayaan investor.
Kepercayaan dari transaksi institusional ini juga menjadi acuan bagi investor swasta untuk semakin mengalihkan portofolio mereka ke emas, memperkuat tren kenaikan harga di masa mendatang.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.