Jurnal Indonesia — Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) secara mengejutkan berbalik arah dengan membukukan aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing senilai Rp 218,86 miliar pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Akibatnya, harga saham BBRI ditutup anjlok 2,92% ke level Rp 3.320, dengan total 194,89 juta saham diperdagangkan dalam 44.524 kali transaksi senilai Rp 652,36 miliar.
Perubahan arah ini terjadi setelah dua hari bursa sebelumnya saham BBRI terus menguat dan mencatatkan pembelian bersih (net buy) asing sebesar Rp 299,52 miliar. Dalam hitungan sepekan terakhir, saham Bank Rakyat Indonesia tercatat merosot 2,64% dengan net buy asing yang tipis, hanya Rp 60,72 miliar.
Di tengah pergerakan harga saham tersebut, Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diproyeksikan akan menormalkan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) menjadi sekitar 70% untuk tahun buku 2026. Angka ini menurun dari rasio 92% yang dibayarkan pada tahun buku 2025.
“Dalam jangka panjang, rasio pembayaran dividen BRI diperkirakan berada pada kisaran 50%-60%,” ungkap analis MNC Sekuritas, Victoria Venny, dalam risetnya yang dikutip pada Kamis (3/9/2026).
Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, turut menyoroti proyeksi dividen emiten berkode saham BBRI ini. Menurutnya, BBRI mulai menggeser prioritas penggunaan laba dari pembagian dividen yang tinggi menjadi penguatan modal untuk mendukung pertumbuhan bisnis.
Jason memprediksi rasio pembayaran dividen BBRI akan turun secara bertahap menuju 60% dari 92% pada tahun buku 2025. Perubahan strategi ini perlu dilihat bersamaan dengan rencana BBRI untuk kembali mendorong pertumbuhan kredit mikro. Strategi tersebut berpotensi memberikan perseroan ruang lebih besar untuk menahan laba dan mendanai ekspansi dari modal internal.
“Bagi investor yang mengandalkan BBRI sebagai saham dengan imbal hasil dividen tinggi, perubahan tersebut dapat mengurangi pendapatan pasif dalam jangka pendek. Namun, strategi itu ditujukan untuk memberikan kapasitas modal yang lebih besar bagi ekspansi bisnis,” jelas Jason.
Sementara itu, Victoria menilai prospek laba BBRI akan tetap ditopang oleh pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP), peningkatan efisiensi, serta bantalan modal yang kuat. Faktor-faktor ini dinilai dapat membantu menjaga ketahanan laba BRI, meskipun margin bunga bersih (net interest margin/NIM) masih menghadapi tekanan jangka pendek.
Pada kuartal II-2026, laba bersih setelah pajak (net profit after tax/NPAT) BBRI mencapai Rp 15,4 triliun. Angka ini turun 0,8% secara kuartalan (quarter on quarter/qoq), namun mengalami kenaikan 22% secara tahunan (year on year/yoy).
Secara kumulatif, NPAT BBRI pada semester I-2026 mencapai Rp 30,9 triliun, tumbuh 17,5% yoy. Realisasi ini setara dengan 52% dari proyeksi MNC Sekuritas dan 53% dari estimasi konsensus tahun 2026. PPOP tercatat naik 12,7% yoy, sementara pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) meningkat 9,9% menjadi Rp 80,5 triliun.
NIM sendiri turun 10 basis poin menjadi 7,7%, namun masih berada dalam panduan yang ditetapkan, yaitu antara 7,4%-7,8%. Total kredit tumbuh 16,2% yoy dan 5,3% qoq mencapai Rp 1.645,5 triliun, melampaui panduan awal perseroan yang berkisar 7%-9%. Pertumbuhan kredit ini terutama ditopang oleh segmen korporasi dan komersial.
Kualitas aset BRI juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah bruto (gross non-performing loan/NPL) tercatat sebesar 2,9%, sementara kredit berisiko (loan at risk/LAR) turun menjadi 9,1%.
Berdasarkan berbagai pertimbangan tersebut, MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham BBRI dengan target harga Rp 4.050. Target harga ini mencerminkan price to book value (PBV) sebesar 1,9 kali untuk estimasi 2026 dan 1,8 kali untuk proyeksi 2027.
MNC Sekuritas menilai pertumbuhan PPOP, efisiensi yang berlanjut, serta modal yang kuat menjadi penopang utama ketahanan laba BBRI. Namun, risiko terhadap proyeksi tetap datang dari potensi perlambatan pertumbuhan kredit, kondisi ekonomi makro yang melemah, serta persaingan yang semakin ketat di segmen wholesale.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.