Jurnal Indonesia — Purwakarta – Kematian Sumarna (40), seorang satpam di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, menyisakan tanda tanya besar. Ia ditemukan dalam kondisi tangan terborgol, memicu desakan dari pihak keluarga agar kematiannya diusut secara mendalam.
“Saya dapat info pas mau Jumat, bahwa korban terborgol di air. Karena korban meninggal di air dan ada hal yang janggal, posisinya tangan terborgol ke belakang. Tolong usut tuntas sesuai jalur hukum,” ujar Ocid, paman korban, pada Sabtu (25/7/2026).
Demi mencari kebenaran, keluarga korban telah memberikan izin kepada kepolisian untuk melakukan prosedur autopsi. Ocid berharap proses medis ini dapat memberikan jawaban atas misteri penyebab kematian keponakannya yang hingga kini belum terungkap.
“Saya selaku paman korban, tadi sudah menghubungi kakak korban dan adik korban, kemudian istri korban sudah menyetujui proses autopsi. Agar bisa diketahui penyebab kematiannya, karena sampai saat ini kami tidak mengetahui apa penyebabnya,” katanya.
Jasad Sumarna pertama kali ditemukan pada Jumat (24/7/2026) siang. Ia ditemukan dalam keadaan mengapung di area danau dengan masih mengenakan seragam satpam.
Penemuan jasad terjadi setelah rekan kerja korban melakukan pencarian karena Sumarna hilang kontak sejak pukul 03.00 WIB. Pencarian kemudian melibatkan kepala satpam dan warga sekitar waduk.
Sekitar pukul 11.00 WIB, jasad Sumarna akhirnya ditemukan mengapung di pinggir air. Diketahui, Sumarna tengah menjalankan tugas piket malam di area waduk sebelum ditemukan meninggal dunia.
Sempat Tegur Aksi Vandalisme
Pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan terkait kasus kematian Sumarna. Berdasarkan keterangan warga, sebelum ditemukan tewas, Sumarna diketahui sempat menegur sekelompok pemuda yang diduga hendak melakukan aksi vandalisme di area objek vital tersebut.
“Kabarnya dia melarang orang yang mau curat-coret, ya wajar karena itu memang tugas dia menjaga area waduk. Aksi corat-coret malam Rabu, selang satu hari diduga kelompok itu datang lagi,” kata seorang warga bernama Warta di lokasi kejadian.
Saat ini, polisi masih mendalami kemungkinan adanya kaitan antara perselisihan terkait aksi vandalisme tersebut dengan kematian korban. Pihak kepolisian juga telah mengamankan sejumlah barang milik korban.
“Kami sudah mengamankan barang milik korban, seperti sepeda motor yang digunakan korban bekerja, HT. Kalau HP belum. Kami juga sudah memeriksa beberapa saksi,” kata Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP I Made Purwanta.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.