— Jakarta – Senator asal Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, dilaporkan ke Badan Kehormatan (BK) DPD RI buntut kehadirannya dalam kontes transgender Miss Equality World 2026 di Bangkok, Thailand. Jika terbukti melanggar kode etik, Arya Wedakarna terancam menghadapi berbagai sanksi.

Ketua Badan Kehormatan DPD, Hasby Yusuf, menjelaskan bahwa sanksi yang dapat dijatuhkan bervariasi, mulai dari ringan, sedang, hingga berat. “Secara umum aturan tentang sanksi menurut tata beracara Badan Kehormatan terdiri dari sanksi ringan, sedang dan berat,” kata Hasby kepada wartawan, Minggu (6/9/2026).

Sanksi ringan dapat berupa teguran lisan maupun tertulis. Sementara itu, sanksi sedang meliputi pencopotan dari jabatan pimpinan alat kelengkapan dewan, serta pembatasan kegiatan seperti larangan perjalanan dinas. “Sanksi sedang bisa diberhentikan dari pimpinan alat kelengkapan dan atau sanksi tambahan seperti tidak bisa melaksanakan perjalanan dinas dan sebagainya,” jelas Hasby.

Adapun sanksi berat yang mengancam Arya Wedakarna adalah penonaktifan sementara sebagai anggota DPD hingga pemecatan. “Sementara sanksi berat bisa berupa penonaktifan sementara sebagai anggota hingga pemecatan,” ujar Hasby.

Saat ini, DPD masih mendalami aduan terhadap Arya Wedakarna terkait kehadirannya di acara kontes kecantikan transgender tersebut. BK DPD telah menjadwalkan pemanggilan terhadap Arya Wedakarna pada Jumat (11/9) untuk melakukan pendalaman lebih lanjut. “Terkait kasus AWK kita sudah jadwalkan akan memanggil yang bersangkutan pada hari Jumat 11 September 2026. Kami akan dalami kasus ini secara cermat, nanti dalam pendalaman itulah kami akan mengambil kesimpulan dan keputusan,” imbuh Hasby.

Penjelasan Arya Wedakarna

Menanggapi aduan tersebut, Arya Wedakarna telah memberikan klarifikasi mengenai kehadirannya di Miss Equality World 2026. Ia menegaskan bahwa kehadirannya di Bangkok, Thailand, bukanlah atas kapasitasnya sebagai anggota DPD perwakilan Bali.

Arya menjelaskan bahwa dirinya menerima undangan dari sebuah organisasi yang kerap mengadakan kegiatan amal. Ia diberitahu bahwa Bali akan menerima penghargaan atas kontribusi pariwisatanya. Oleh karena itu, ia hadir sebagai tokoh yang mewakili pariwisata.

“Jadi kronologinya, pertengahan tahun ini ya, Juni ya. Itu, saya bertempat di istana saya di Jembrana. Mewakili pribadi ya dan juga sebagai tokoh budaya Hindu. Kita menerima panitia, namanya MS Organization. Jadi mereka berjaringan di 15 negara dan mereka ini sudah sering mengadakan kegiatan charity di Bali. Kegiatan sosial, begitu. Nah, jadi namanya tamu kan kita terima,” kata Arya kepada wartawan, Rabu (2/9).

Arya menambahkan bahwa kehadirannya di Miss Equality World adalah sebagai Presiden Hindu Center of Indonesia, bukan atas nama DPD. Ia juga menyebutkan bahwa terdapat berbagai kegiatan lain yang ia ikuti, termasuk kunjungan ke vihara dan pameran.

“Dan di sana rangkaian acaranya banyak. Jadi saya sempat keliling ke sana juga, ke Vihara Buddha, ada juga ke kuil-kuil Hindu. Kemudian ada juga, apa, pameran-pameran ya. Macam-macam, acara diskusi. Nah, malam puncaknya itu kan ada penghargaan, salah satu kegiatannya adalah memberikan penghargaan kepada lima tokoh,” ungkapnya.

Acara puncak kontes transgender pada 30 Agustus merupakan momen pemberian penghargaan. Arya hadir dalam acara tersebut, dan foto-fotonya kemudian tersebar di media sosial. “Nah, tim mereka itu juga membuat video tentang Bali, pariwisata Bali. Jadi yang di mana saya datang untuk mewakili Bali, karena menerima apa, video itu ya tentang pariwisata Bali yang dianggap berhasil. Ya udah itu aja. Tanpa pidato, menerima, ya sudah, selesai gitu aja, pamit, begitu,” tuturnya.