Jurnal Indonesia — Jakarta – Peningkatan titik panas dan sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terpantau di wilayah Kalimantan dalam sepekan terakhir. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan akan memperkuat upaya penanganan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), penambahan armada udara, serta penguatan personel dan sarana pemadaman di darat.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menjelaskan bahwa BNPB menyiagakan 30 unit helikopter untuk mendukung operasi water bombing dan patroli udara di Kalimantan. Sementara itu, 22 unit helikopter disiagakan untuk wilayah Sumatra. Jumlah armada ini masih dapat ditambah sesuai kebutuhan dan arahan Presiden Prabowo Subianto, serta hasil koordinasi dengan Kementerian Pertahanan.
Selain penguatan udara, pemerintah juga memperkuat satuan tugas (satgas) darat dengan menyediakan perlengkapan tambahan bagi personel. Ini termasuk Alat Pelindung Diri (APD) dan pompa air bertekanan tinggi (high-pressure pump) untuk memastikan proses pemadaman di darat berjalan lebih efektif. Pemerintah juga mengalokasikan hingga 100 unit mobil tangki air untuk setiap provinsi, sesuai kebutuhan, guna memperkuat distribusi air dalam operasi pemadaman darat.
Suharyanto menegaskan bahwa pemerintah pusat memberikan perhatian penuh terhadap penanganan Karhutla di Kalimantan. Ia menambahkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi langsung agar kebutuhan sarana dan prasarana operasional tim gabungan di lapangan segera dipenuhi dan penanganan dipercepat. “Jadi bukan hanya pemadaman dari udara, tetapi juga penguatan satgas darat, peralatan, pompa, mobil tangki, dan seluruh kebutuhan yang diperlukan untuk mempercepat pengendalian Karhutla,” jelas Suharyanto.
Peningkatan aktivitas Karhutla terutama terpantau di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Kondisi ini dipengaruhi oleh minimnya curah hujan alami selama hampir sepekan terakhir, yang memperbesar potensi kebakaran dan memperpanjang keberadaan asap. Suharyanto menambahkan bahwa Karhutla di Kalimantan banyak terjadi di lahan gambut, di mana bara api di bawah permukaan yang terlihat padam belum tentu benar-benar mati. Oleh karena itu, hujan dengan intensitas yang cukup menjadi faktor penting untuk membasahi kembali lahan gambut dan memadamkan bara yang tersimpan.
Menyikapi hal tersebut, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi salah satu prioritas penanganan. Berdasarkan evaluasi teknis dan ketersediaan awan yang dilakukan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), penyemaian awan menggunakan garam dapat kembali dilaksanakan secara intensif di wilayah Kalimantan. “OMC menjadi salah satu prioritas kita. Hari ini sudah bisa kembali dilaksanakan secara intensif berdasarkan kondisi awan yang tersedia. Kita berharap hujan dapat segera turun di wilayah-wilayah yang membutuhkan sehingga membantu proses pemadaman di lapangan,” kata Suharyanto.
Meskipun demikian, BNPB terus memantau dampak asap terhadap aktivitas masyarakat, termasuk sektor transportasi udara. Kepekatan asap sempat menyebabkan penurunan jarak pandang di sejumlah wilayah seperti Banjarbaru, Palangka Raya, dan Pontianak pada pagi hari. Namun, kondisi jarak pandang dilaporkan berangsur membaik pada siang hari. Aktivitas penerbangan di bandara-bandara utama dilaporkan masih berlangsung aman dan sesuai jadwal.
Dalam penanganan dampak kesehatan akibat asap Karhutla, BNPB berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah. Posko Kesehatan Terpadu diperkuat di daerah terdampak untuk memastikan masyarakat, khususnya kelompok rentan, mendapatkan perlindungan dan pelayanan yang diperlukan. Pemerintah juga terus memantau dan berkoordinasi terkait potensi dampak asap lintas batas (cross-border haze).
Suharyanto menyatakan optimisme bahwa Karhutla di Kalimantan dapat segera dikendalikan dengan seluruh upaya yang dilakukan. BNPB bersama kementerian/lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan seluruh unsur terkait akan terus memperkuat sinergi penanganan di lapangan secara terpadu. Tujuannya adalah agar kebakaran segera dikendalikan, dampak asap diminimalkan, dan aktivitas masyarakat di wilayah terdampak tetap berjalan aman.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.