Jurnal Indonesia — SUBANG – Ribuan siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, menggelar aksi demonstrasi pada Senin (7/9/2026). Aksi ini dipicu oleh dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kesiswaan berinisial AT terhadap belasan siswi.
Situasi sempat memanas ketika ribuan siswa mencoba mengejar oknum guru tersebut yang diduga hendak melarikan diri dari gerbang sekolah. Kericuhan berhasil diredam setelah pihak kepolisian tiba di lokasi dan mengamankan pelaku.
Salah seorang siswi yang mengaku sebagai korban, DS, mengungkapkan bahwa aksi tidak pantas yang dilakukan oknum Wakasek tersebut telah berlangsung cukup lama, namun para korban merasa takut untuk bersuara. DS menceritakan pengalamannya saat menjadi panitia perpisahan sekolah pada 7 Mei lalu. Ketika sedang membersihkan area gedung olahraga usai acara, ia tiba-tiba dipeluk dari belakang oleh pelaku saat sedang berfoto.
“Saat itu saya merasa tidak nyaman dan menegurnya. Namun, dia berdalih bahwa hubungan antara guru dan siswa itu seperti ayah dan anak,” ujar DS saat ditemui di sekolah usai aksi demo.
Terbongkarnya kasus ini berawal dari keberanian salah satu pengurus OSIS yang angkat bicara, yang kemudian mendorong korban-korban lain untuk ikut bersuara. Guru Bimbingan Konseling (BK) kemudian mengumpulkan para siswi yang menjadi korban.
“Jadi ada yang berani speak up, karena ada yang berani jadi semua ikut ngomong, tadi yang di guru BK yang laporan ada 15-20 orang, karena ada kericuhan jadi terhenti, kayaknya hampir seluruh cewek satu sekolah ini jadi korban,” kata DS.
Kepala SMAN 1 Pamanukan, Edi Kanedi, membenarkan adanya aksi unjuk rasa yang melibatkan seluruh siswa yang berjumlah 1.445 orang tersebut. Ia menjelaskan bahwa awalnya hanya satu murid yang melaporkan, namun setelah dilakukan penelusuran, jumlah korban terus bertambah.
“Awalnya ada satu murid yang melaporkan. Setelah diselidiki, ternyata korbannya banyak. Data sementara yang tercatat di BK ada sekitar 11 hingga 15 orang siswi,” kata Edi.
Orang tua siswa mengaku terkejut dengan insiden tersebut. Mariam, salah satu orang tua murid, langsung mendatangi sekolah setelah dihubungi oleh anaknya.
“Anak saya telepon minta saya datang ke sekolah untuk bertemu guru BK. Dia mengaku dilecehkan. Saya sangat kaget dan tidak menyangka karena sekolah ini reputasinya bagus,” tutur Mariam.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.