— Bandar Lampung – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau Zulhas, menyalurkan bantuan pangan bagi masyarakat di Lampung Selatan. Program ini dirancang untuk meringankan beban pengeluaran masyarakat berpenghasilan rendah dan menjaga stabilitas harga pangan di pasaran.

Bantuan pangan berupa beras 10 kilogram per bulan ini akan diberikan selama tiga bulan kepada 33,2 juta penerima manfaat yang termasuk dalam kategori desil 1 hingga 4. Program ini ditujukan bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan finansial untuk membeli beras.

“Satu, keputusan penting, karena sekarang lagi musim kering, musim paceklik. Harga mulai sedikit-sedikit naik. Oleh karena itu, pemerintah melalui Menko Pangan, kami rapat dari Pak Dirut Bulog, Menteri Pertanian, Menteri Keuangan, memutuskan, dan Presiden sudah menyetujui. Bapak Presiden untuk segera dilakukan,” ujar Zulhas di KDMP Desa Pisang, Lampung Selatan, Lampung, Jumat (11/9/2026).

Ia merinci, bantuan pangan yang seharusnya disalurkan pada Juli, Agustus, dan September dengan total 30 kilogram, akan diselesaikan pada bulan September ini. Total penyaluran untuk program ini mencapai 1 juta ton yang ditujukan untuk 33,2 juta penerima manfaat.

Selain bantuan pangan langsung, pemerintah juga akan menambah penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) medium sebesar 1 juta ton hingga Desember 2026. Beras SPHP ini ditujukan bagi masyarakat yang mampu membeli namun terbebani dengan harga beras saat ini, dan akan dijual dengan harga Rp 12.000 hingga Rp 12.500 per kilogram.

“Nomor dua, ada saudara kita yang bisa beli, tapi tidak bisa kalau harganya Rp 15 ribu per kilo, maka kita siapin juga 1 juta ton, Oktober, November, Desember SPHP namanya yang disubsidi. SPHP akan masuk ke pasar-pasar tradisional harganya Rp 12.000 sampai Rp 12.500 per kilo,” jelas Zulhas.

Zulhas menambahkan, kehadiran beras SPHP diharapkan dapat menekan harga beras di pasar yang saat ini mengalami kenaikan.

“Beras subsidi harga untuk tekan harga di pasar agar turun,” tegasnya.

Seorang penerima manfaat, Rei, yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online di Lampung, menyambut baik program bantuan pangan tersebut. Ia menilai program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

“(Bantuan pangan) Sangat membantu untuk kita,” tutur Rei.

Rei menceritakan bahwa rata-rata pendapatan harian yang diperolehnya dari pekerjaan ojek online hanya sekitar Rp 80.000 setelah dipotong berbagai biaya. Untuk mencapai pendapatan tersebut, ia harus bekerja mulai dari pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Ia mengaku, dengan penghasilan tersebut, memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya yang terdiri dari dua anak menjadi sebuah tantangan.

“Sehari paling besar dapat Rp 100-150 ribu itu kotor. Bersihnya rata-rata Rp 80 ribu per hari,” tutupnya.